Otomasi Industri menggunakan PLC


Adanya perkembangan teknologi dan tuntutan global, industri mulai menerapkan sistem otomatisasi atau automtion dalam sebagian lini operasional produksi secara sebagian ataupun menyeluruh. Proses menuju otomatisasi tidak mudah karena berhubungan dengan kesiapan perusahaan menghadapi perubahan operasional, budaya, serta investasi. Kesiapan perusahaan ini lah yang akan menentukan keberhasilan sistem otomasi agar menjadikan operasional lebih efektif, terukur, cepat dan efisien. 

PLC

    Salah satu komponen pendukung dalam penerapan otomatisasi yaitu PLC. PLC inilah yang akan menjadi otak dalam proses otomatisasi. PLC merupakan sistem komputer khusus yang di desain untuk mengatur berbagai aktivitas produksi, packaging dan lain-lain yang berhubungan dengan industri. PLC atau Programmable Logic Controller merupakan perangkat komputer yang dapat diprogram sesuai kebutuhan proses industri berdasarkan perhitungan aritmatik dalam suatu perintah yang bertujuan untuk mengontrol dan mengatur proses yang diinginkan sehingga menghasilkan output yang diinginkan.

    PLC bekerja dengan cara menerima dan memproses informasi dari sensor yang terhubung. PLC akan menghasilkan output berdasarkan parameter yang diprogram sebelumnya dengan memproses data yang terkumpul. Sebuah PLC dapat memonitor dan merekam data run-time seperti produktivitas mesin atau suhu operasi, namun bergantung pada input dan output. Selain itu, perangkat PLC juga dapat mengontrol aktivitas industri secara otomatis, seperti mengaktifkan alarm jika mesin mengalami kendala produksi hingga pemberhentian otomatis alur produksi apabila kuota produksi sudah terpenuhi. Alat ini dapat dikendalikan, dioperasikan dan dimonitoring menggunakan software yang sesuai dengan jenis PLC yang digunakan.

    Penerapan PLC di Indonesia sudah hampir di setiap segmen industri. Industri yang dimaksud yaitu mulai dari industri otomotif, industri pertambangan dan minyak bumi, pabrik kimia, pabrik kertas, industri pengolahan makanan, pabrik besi dan baja hingga pembangkit listrik. PLC melakukan berbagai tugas kontro, seperti kontrol on/off, alarm mesin, kecepatan running belt, pengontrolan proses, pengecekan hasil produksi, pendeteksian anomali dalam suatu proses kerja, distribusi bahan produksi, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, ada beberapa contoh aplikasi PLC untuk mendukung sistem otomatisasi terhadap proses produksi, antara lain :

1. Industi Otomotif

    a. Monitoring Mesin Produksi

        Sistem memonitor setiap peletakkan komponen, pendeteksian komponen yang cacat, penggerakan komponen untuk produksi, perhitungan waktu siklus peralatan, dan mengontrol tingkat presisi. Data statistik tersedia bagi operator untuk memudahkan proses analisa serta mengontrol jalannya produksi.

    b. Pengujian Produksi Komponen

       PLC memudahkan proses analisa dalam jalur perakitan produksi. Sistem secara signifikan mengurangi resiko kesalahan manusia dengan memberikan hasil yang lebih presisi serta pengukuran yang akurat. Misalnya dalam pengujian komponen turbo pada mesin kendaraan modern, variabel yang dapat diukur dalam sistem meliputi jumlah tekanan dalam psi atau bar, flow capacity, kecepatan putar, serta aliran bahan bakar dan volume udara dingin.

    c. Quality Checking

        Sistem PLC bertugas untuk mengontrol dan memastikan komponen yang diproduksi sudah sesuai spesifikasi dengan ukuran detail yang presisi atau belum. Mulai dari dimension testing, material testing, shape testing, compatibility testing, dan keperluan lainnya menggunakan berbagai jenis sensor berdasarkan kebutuhan tersebut.

    d. Internal Combustion Engine Monitoring

        Sebuah PLC memperoleh data hasil rekaman dari sensor yang terletak dalam internal combustion engine. Pengukuran yang dilakukan meliputi suhu air, suhu oli, RPM, torsi, suhu gas buang, oil pressure, manifold pressure, dan timing. Hal ini berguna untuk pelaku industri agar dapat menentukan analisa terkait efisiensi bahan bakar, daya tenaga, maupun pengukuran lainnya dalam suatu produksi kendaraan.

2. Industri Karet

      PLC digunakan dalam sistem produksi ban karet. Hal ini dilakukan dengan cara mengontrol urutan proses mulai dari karet mentah hingga menjadi ban kendaraan yang sudah siap untuk digunakan. Sistem yang dapat dikontrol dan dipantau ini mencakup kegiatan cetak pola tapak ban, pembentukan ukuran ban, penulisan timbul pada permukaan ban, hingga pengetesan durabilitas menggunakan mesin putar dan tekanan. Tentunya semua proses tersebut menggunakan jenis sensor sesuai dengan kebutuhan, seperti dalam hal pengetesan daya tahan ban, maka pressure sensor lah yang digunakan dalam mesin hidrolik bertekanan tinggi tersebut. Aplikasi PLC ini secara substansial mengurangi upaya yang dibutuhkan dalam menciptakan produk serta mengurangi resiko terjadinya kerusakan dalam proses produksi.

3. Industri Pulp dan Paper

    a. Pulp Batch Blending

        PLC mengontrol operasional blending bahan pembuatan kertas secara berurutan, mulai dari proses pengukuran bahan, pelaksanaan metode blending melalui program yang sudah disetting, maupun penempatan hasil jadi pada suhu tertentu agar mengering. Sistem ini memungkinkan operator untuk mengontrol setiap proses dan bahan yang digunakan, memudahkan kalkulasi bahan serta jumlah yang diproduksi.

    b. Persiapan Batch untuk Pemrosesan Pembuatan Kertas

        Penggunaan PLC yang dimaksud yaitu termasuk kontrol dari sistem persiapan stok untuk pembuatan kertas. Resep untuk setiap tangki batch dipilih dan disesuaikan melalui entry operator. PLC dapat mengontrol logic  untuk penambahan bahan kimia berdasarkan pengukuran level tangki. Selain itu, PLC juga dapat memberikan laporan penggunaan serta proses keseluruhan produksi untuk selanjutnya dianalisis oleh operator maupun manajemen.

    c. Paper Mill Digester

       PLC mengendalikan proses pembuatan bubur kertas. Sistem menghitung dan mengontrol jumlah chip berdasarkan kepadatan dan digester volume. Kemudian, metode yang dibutuhkan dikalkulasi bersamaan dengan ketersediaan bahan, lalu ditambahkan ke dalam urutan. PLC menurunkan atau menahan suhu pencampuran hingga proses selesai. Suhu menjadi faktor penting dalam hal ini, dimana peran temperature sensor dihubungkan dengan sistem komputer PLC terkait.

        Beberapa aplikasi PLC pada industri tersebut hanya mencakup sebagian kecil dari penggunaan PLC pada lingkup industri. Semakin banyaknya industri yang mulai menerapkan otomatisasi, maka sistem produksi pun semakin terorganisir, terpantau, dan terukur. Hal ini guna mencegah faktor resiko seperti kelalaian manusia, hingga informasi-informasi penting mengenai jalannya produksi maupun ketersediaan bahan baku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar